Search

7 Alasan Menjadikan Ngeblog Sebagai Hobi Sekaligus Profesi

ngeblog sebagai hobi

Saya tak pernah menyangka kalau ngeblog sebagai hobi bisa berkembang menjadi sebuah profesi. Mungkin pendapatan dari ngeblog buat sebagian orang tidaklah terlalu besar. Namun buat saya yang tidak dibebani kewajiban sebagai pencari nafkah, apa yang saya dapatkan dari blog lebih dari cukup. Bahkan semakin hari membuat saya berbinar-binar.

Rezeki dari Hobi Ngeblog

Apa yang saya dapatkan dari ngeblog dan membuat mata berbinar-binar, tidak hanya soal rupiah. Dari ngeblog, saya mendapat banyak teman-teman baru yang inspiratif. Termasuk juga para sahabat yang saat ini sedang mampir dan membaca tulisan ini, terima kasih ya. Tanpa kehadiran kalian, apalah saya ini.

Dari berjejaring dan bertemu banyak orang-orang baru, wawasan saya pun tak lagi terkungkung dalam satu kotak sempit. Blogger tumbuh dari banyak latar belakang berbeda. Bahkan meski sebagian besar blogger perempuan adalah ibu rumah tangga, namun latar belakang pendidikan mereka beraneka ragam. Jadilah isi blog mereka pun aneka rupa.

Saya bisa membaca artikel tentang hukum, ekonomi, sastra dan banyak tema menarik lainnya. Hebat ya perempuan itu? Jangan sepelekan daster yang dipakai. Sekalinya bikin artikel, isinya uwow bangeeet dah.

Mengembangkan Ngeblog Sebagai Hobi Menjadi Profesi

Meski mengenal blog sudah sejak sebelum lulus kuliah, namun saya baru kembali berdekatan dengan dunia ini pada 2013. Blog pertama yang saya buat dengan sepenuh hati setelah menjadi seorang ibu tersebut bertajuk Marita’s Palace.

Masih belum tahu banyak tentang seluk beluk blog, hingga akhirnya 2016 keinginan untuk go professional semakin mendera. Apa sajakah alasan di balik keputusan tersebut? Sahabat mau tahu?

alasan hobi jadi profesi

1. Menggantung Sepatu sebagai Full Time Content Writer

Awal mula saya kembali ke dunia blogging pada 2013, tak lain karena merasa kelelahan dengan pekerjaan saya sebagai full time content writer. Berkubang dengan ribuan keyword, memilah dan memilih keyword mana yang harus saya tulis untuk hari itu, lama-lama membuat sumpek juga.

Saya merasa butuh ruang personal untuk menuliskan ide-ide tanpa dibebani dengan keyword ini dan itu. Ingin lebih bebas bercerita dengan jujur dan apa adanya. Bisa memilih tema tulisan sesuai keinginan.

2. Menguatkan Personal Branding

Selain ngeblog, salah satu hal yang saya jalani untuk menyeimbangkan hobi menulis dengan pekerjaan sebagai full time content writer adalah mengikuti beberapa proyek antologi. Alhamdulillah dari 2013 sampai 2020, sudah ada 20an proyek antologi yang saya ikuti.

Tak hanya membangun personal branding lewat media sosial,  memiliki blog personal menurut saya adalah cara jitu lainnya untuk menguatkan personal branding. Setidaknya calon pembaca buku bisa mengintip gaya tulisan saya lewat blog, sebelum memutuskan membeli buku-buku antologi.

Setelah rutin membagikan postingan blog ke media sosial, perlahan banyak orang mulai mengenal karya-karya saya. Tak sedikit yang mulai mengenal saya sebagai blogger yang sering berbagi tentang tips parenting dan relationship. Senang rasanya jika ada sahabat yang menyapa, baik lewat kolom komentar ataupun jalur pribadi, dan merespon tulisan-tulisan saya.  Meski pernah juga lo saya mendapat respon yang cukup mengagetkan. Hehehe.

3. Salah Satu Bentuk Self Love

Ngeblog buat saya juga salah satu cara mencintai diri sendiri. Setelah seharian berkutat dengan urusan domestik, mengurus anak, nemenin suami ngobrol dan urusan printilan terkait mengelola tim penulis konten, ngeblog menjadi mata air yang menyegarkan.

Segala lelah dan letih setelah seharian berkutat dengan to do list, bisa menulis tanpa beban dan embel-embel kerjaan itu rasanya nikmat.

4. Nikmatnya Hobi yang Dibayar

Bisa menjalani hobi saja sudah sangat membahagiakan, apalagi ketika hobi itu mendapat bayaran. Bisa dibayangkan bagaimana asyiknya? Setelah tahu nikmatnya hobi yang dibayar, tentunya nggak mungkin dong melepas hobi itu begitu saja?

PR nya tentu saja bagaimana mengolaborasikan kesenangan dengan keinginan pihak-pihak yang ingin bekerjasama. Namun kalau saya tetap kunci pertama dalam menjalani hobi adalah kebahagiaan diri. Kalau nggak bahagia, ya lepasin aja.

5. Dukungan Sahabat Sekomunitas

Jauh sebelum bergabung dengan banyak komunitas blogger, Gandjel Rel adalah komunitas blogger perempuan pertama yang menjadi jalan bagi saya mengenal dunia blogging dengan lebih luas. Teman-teman Gandjel Rel tahu kalau saya aktif sebagai content writer. Saat itu mereka mendukung saya untuk tidak menyia-nyiakan hobi menulis saya. Kalau bisa membesarkan blog sendiri, kenapa harus membesarkan blog orang lain, dukung mereka saat itu.

Dari sanalah saya semakin terlecut untuk membangun blog profesional. Bertepatan dengan lahirnya keseriusan ngeblog saya, digelarlah event Fun Blogging yang mendatangkan Mbak Shinta Ries, Teh Ani Berta dan Mbak Haya Aliya Zaki. Saya nekat membeli domain untuk blog pertama yang saat ini sudah berusia 5 tahun.

6. Sebagai Portfolio dan Warisan

Blog juga bisa menjadi portfolio alias rekam jejak prestasi yang kita miliki. Misal mau mencoba melamar suatu pekerjaan, blog bisa menjadi salah satu cara untuk menunjukkan karya. Apalagi jika pekerjaan yang dilamar berhubungan dengan dunia tulis-menulis, membantu banget tuh.

Selain sebagai portfolio, blog juga bisa menjadi warisan yang kelak bisa saya berikan kepada anak cucu. Pengennya sih ketika saya sudah nggak ada, anak cucu bisa mengenang saya lewat tulisan-tulisan yang ada di blog.

7. Menuju Peternak Blog

Saya tak pernah terpikir bahwa akan memiliki blog kedua, ketiga, dan keempat. Semuanya berjalan secara alami. Blog kedua bertajuk Blogspedia lahir karena keinginan sederhana saya yang ingin mengumpulkan tutorial blog.

Maklum sebagai blogger pemula, saya sering trial dan error beberapa tips dan tutorial. Setelah berhasil, saya seringnya lupa tips mana yang saya terapkan. Ketika ada teman yang menanyakan tips tersebut, saya jadi bingung deh. Dari situlah niat mengumpulkan tips dan tutorial blogging muncul.

Blog ketiga lahir saat saya mengikuti kelas Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional. Awalnya sih saya terbitkan di blog Marita’s Palace. Namun karena laporan yang diminta harus terbit setiap hari, saya mulai kepontal-pontal kalau harus terbit di Marita’s Palace. Memang saya memiliki standar berbeda di blog tersebut dibandingkan blog lainnya.

Dan Salam Bunda adalah blog keempat saya. Memilikinya pun tak sengaja dan tak direncanakan. Hanya karena jatuh hati pada namanya, tanpa pikir lama-lama langsung diadopsi deh.

Btw, melihat semangat saya terjun ke dunia ngeblog, suami pun terinspirasi untuk membuat blog. Bahkan kemarin sempat membeli domain baru juga. Kita lihat saja ya, apakah doi bisa konsisten ngeblog disambi tetap menjalani pekerjaannya sebagai programmer. Buat yang mau mampir ke blog suami, boleh mampir ke Martin Setiawan ya.

Memiliki 4 blog seperti sekarang yang saya rasakan sama halnya seorang bunda yang memiliki lebih dari satu anak. Saya ingin bisa membagi waktu dan perhatian dengan rata. Pengennya ketika update di blog yang satu, juga update di blog lainnya.

Sayang tangan hanya dua, waktu pun dibagi-bagi dengan kegiatan lainnya, bisa bergantian update dari satu blog ke blog lainnya saja sudah sebuah prestasi yang membanggakan. Tak pengen terlalu ngoyo. Sebagaimana semboyan yang saya gemborkan di bulan ini, Let’s Drill and Chill. Semangat bekerja boleh, tapi juga jangan lupa untuk bersantai barang sekejap.

Akhir kata, apakah para sahabat sudah berhasil mengembangkan ngeblog sebagai hobi menjadi profesi, atau masih dalam taraf suka-suka aja nih? Mau dong dibisikin alasan ngeblog dari para sahabat. Anyway, apapun pilihan dan alasannya, keep blogging happily ya!

One Reply to “7 Alasan Menjadikan Ngeblog Sebagai Hobi Sekaligus Profesi”

  1. Yonal Regen says: April 14, 2021 at 2:47 pm

    Ternyata lumayan banyak ya blog coach ini, which is ternak blog ya. Semoga dapat tertular nih positif nulisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*