Inilah Kronologi Lengkap Tragedi Guru di Sampang Versi Polisi. Kok Beda dengan Informasi Yang Beredar?

Penganiayaan yang dilakukan oleh seorang murid SMAN 1 Torjun, HI (17) kepada gurunya sendiri, Ahmad Budi Cahyono (26) hingga berujung maut, menimbulkan bermacam versi di publik.

Polres Sampang, demi meluruskan hal tersebut, menggelar konferensi pers yang dilaksanakan pada Jumat (2/2/2018) malam, di Mapolres Sampang, Jawa Timur.

Seperti dilansir dari Kompas.com, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menyampaikan bahwa banyak muncul informasi yang simpang siur dan beredar di masyarakat. Malah, ada juga pihak yang langsung begitu saja mempublikasikan kejadian, walau belum tahu secara detail tentang kejadiannya.

Untuk kronologi penganiayaan HI terhadap gurunya yang disampaikan oleh Budi adalah seperti berikut:

1. Pada hari Kamis (1/2/2018) sekitar pada pukul 13.00, korban berada di kelas XII untuk mengisi pelajaran seni melukis. Semua siswa pun diberikan tugas melukis. Pelaku tak menghiraukan terhadap apa yang ditugaskan oleh korban.

2. Korban lantas menegur pelaku supaya mengerjakan tugas sama seperti temannya yang lain. Namun teguran tersebut tetap tak dihiraukan oleh pelaku.

3. Lantaran tegurannya tak dihiraukan, korban lalu menggoreskan cat pada pipi pelaku.

4. Pelaku lantas tak terima dan mengucapkan kalimat tidak sopan.

5. Karena tak sopan, korban pun memukul pelaku dengan menggunakan kertas absen.

6. Pukulan tersebut ditangkis oleh pelaku yang langsung melayangkan pukulan ke pelipis kanan korban. Akibat terkena pukulan tersebut, korban pun jatuh tersungkur.

7. Murid yang lain kemudian berusaha melerai pelaku dan korban.

8. Korban pun bangun usai terjatuh. Ada lecet pada lengan kiri korban lantaran menahan tubuhnya ketika terjatuh.

9. Setelah kejadian itu, seluruh siswa masuk ke dalam kelas. Di kelas, pelaku sempat minta maaf pada korban dan juga disaksikan oleh murid-murid yang lainnya.

10. Seusai pelajaran, korban dan juga pelaku pun pulang ke rumah masing-masing. Korban masih sempat menceritakan pada kepala sekolah mengenai kejadian pemukulan yang telah dilakukan oleh muridnya.

11. Sesampainya di rumah, korban pun langsung istirahat lantaran mengeluh pusing serta sakit kepala. Pada sekitar pukul 15.00, korban dilarikan ke Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang. Lantaran pihak Puskesmas tak sanggup menangani, korban lalu dirujuk ke rumah sakit daerah Kabupaten Sampang. Kemudian, korban kembali dirujuk ke rumah sakit DR Soetomo, Surabaya.

12. Kemudian pihak rumah sakit menangani korban. Korban pun dinyatakan telah mengalami mati batang otak (MBO), sehingga menyebabkan semua organ tubuh seluruhnya tak berfungsi. Dokter pun memprediksi bahwa korban takkan hidup lama.

13. Pada sekitar pukul 21.40, korban pun dinyatakan telah meninggal dunia. Korban lalu langsung dibawa pulang menuju ke rumahnya yang berada di Sampang.

“Saya luruskan, tidak ada penghadangan korban oleh pelaku setelah jam pulang sekolah. Kejadian penganiayaan yang sebenarnya di depan halaman kelas,” ujar Budi. Ia pun berharap agar tak ada lagi informasi yang simpang siur tentang peristiwa ini.

“Polres Sampang terus mendalami kasus ini dan pelaku sudah ditahan. (Jumat) malam ini (pelaku) sudah ditetapkan sebagai tersangka,” katanya.

Walau masuk ke dalam kategori di bawah umur, HI tetap dikenakan Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang, ancamannya hukuman 7 tahun penjara.

Sumber : kompas.com

Loading...

Leave a Comment


Loading...